Kamis, 29 November 2012

Kurikulum 2013 Akan Bertahap

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Kurikulum 2013 akan diterapkan secara bertahap selama tiga tahun. Pada tahun 2013/2014, kurikulum itu akan diterapkan di kelas I dan IV sekolah dasar, kelas VII SMP, dan kelas X SMA/SMK di seluruh Indonesia.

”Penerapan kurikulum secara bertahap ini agar penyiapan materi pelajaran dan guru bisa lebih fokus, tidak memengaruhi materi ujian nasional, serta mencerminkan kebersamaan karena dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai upacara peringatan Hari Guru Nasional 2012 di Jakarta, Senin (26/11).

Menurut Nuh, pada tahun kedua kurikulum 2013 diperluas penerapannya di kelas II SD, kelas VIII SMP, dan kelas XI SMA. Pada tahun ketiga kurikulum ditambah dengan kelas yang tersisa.

Untuk penerapan kurikulum 2013, menurut Nuh, Kemdikbud tidak hanya menyiapkan kurikulum yang saat ini sedang dalam proses uji publik sampai awal Desember. Pada saat bersamaan, sedang disiapkan pula buku-buku pelajaran serta melatih guru-guru yang akan menerapkan kurikulum 2013.

Guru kuncinya


Nuh memahami kekhawatiran sebagian pihak. Walau kurikulum sering berganti metode pengajaran, guru tidak berubah karena guru tak dilatih terlebih dahulu. ”Karena itu, untuk penerapan kurikulum 2013, guru dilatih dulu agar metode pengajarannya berubah. Kurikulum ini mengharuskan guru bisa mendorong kreativitas dan rasa ingin tahu siswa,” kata Nuh.

Secara terpisah, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengatakan, implementasi perubahan kurikulum sering kali tidak berjalan mulus karena tidak mengakomodasi pemikiran sederhana para guru.

”Guru selalu dipandang semata sebagai pelaksana kurikulum. Padahal, guru pun berhak ikut memikirkan kebijakan yang baik untuk pendidikan,” ujar Sulistiyo.

Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia Fahriza Marta Tanjung meminta agar guru dilibatkan dalam penyusunan kurikulum baru. (ELN)
 
Sumber :
Kompas Cetak
Continue reading →

Mendikbud Rela Ambil Risiko Dicap "Buruk"

0 komentar
         
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh.           
JAKARTA, KOMPAS.com Dirombaknya kurikulum menimbulkan kontroversi. Banyak pihak menilai bahwa perubahan kurikulum ini hanya proyek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saja sehingga muncul anggapan buruk bahwa kurikulum akan terus berganti setiap menteri berganti.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa kurikulum ini memang harus berubah karena zaman juga berubah. Butuh penyesuaian dari segi kebutuhan pengetahuan dan sikap. Oleh karena itu, menurutnya, perubahan kurikulum wajar terjadi selama didukung alasan yang rasional.

"Saya paham, ada yang bilang kalau ganti kurikulum ini nanti dicap ganti menteri ganti kurikulum. Tapi di sisi lain, anak-anak kita butuh sesuatu agar pendidikannya maju. Kalau struktur tidak diubah, akan ketinggalan," kata Nuh saat Uji Publik Pengembangan Kurikulum 2013 di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Kamis (29/11/2012).

"Lalu mana yang dikorbankan kalau seperti itu? Akhirnya, kami ambil risiko untuk lakukan perubahan dan muncul anggapan ganti menteri ganti kurikulum. Tapi yang penting rasionalitasnya jelas," imbuh Nuh.

Ia juga menambahkan bahwa kurikulum akan kembali berubah entah dalam beberapa tahun ke depan. Perubahan kurikulum memang sudah semestinya terjadi selama kebutuhan anak-anak terhadap pendidikan juga terus berkembang. Justru tidak wajar, lanjutnya, jika satu kurikulum terus digunakan dan tidak pernah diganti.

Ia mengungkapkan bahwa perubahan yang dilakukannya melalui berbagai tahapan dan pembahasan ini akan diperiksa kembali dalam beberapa tahun ke depan. Kemudian akan dievaluasi dan ditelaah apakah masih sesuai dengan konteks perkembangan zaman saat itu.

"Kalau sudah tidak cocok ya diganti lagi. Jadi, lazim ada perubahan gini. Dengan segala risiko dan konsekuensinya harus berani. Ini kan buat kebaikan," tandasnya.
Continue reading →

Uji Publik Kurikulum Baru Resmi Dimulai

0 komentar
KOMPAS.com - Uji publik kurikulum 2013 resmi dimulai, Kamis (29/11/2012) malam. Bertempat di Hotel Mega Anggrek, Jakarta menjadi kota pembuka untuk uji publik pengembangan kurikulum 2013 yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Uji publik pengembangan kurikulum ini dihadiri oleh berbagai elemen yang punya pengaruh di bidang pendidikan seperti dari pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, para guru yang nantinya akan mengimplementasikan kurikulum ini dan sejumlah pengamat pendidikan.

"Uji publik ini akan dijalankan selama tiga minggu. Selama uji publik ini kami terbuka pada semua masukan yang ada," kata Wakil Menteri pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim di Jakarta, Kamis (29/11/2012).

Seperti diketahui, uji publik pengembangan kurikulum ini dilakukan di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Medan, Makassar dan Denpasar. Selain lima kota besar ini, ada juga 33 kabupaten/kota yang ditunjuk untuk melakukan uji publik ini sehingga menjangkau semua wilayah.

Sebelum dilakukan uji publik, pihak kementerian telah melakukan pembahasan internal yang dilaksanakan tiap pekan. Setelah disusun berbagai alternatif struktur kurikulum, hasil tersebut dipaparkan kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono. Fase selanjutnya adalah uji publik ini untuk mengetahui pendapat dan masukan dari masyarakat.
Continue reading →

Uji Publik Kurikulum 2013 Digelar Tiga Hari

0 komentar
KOMPAS.com- Uji publik pengembangan kurikulum 2013 yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang dimulai di Jakarta, Kamis (29/11/2012) malam ini, mengundang 383 orang dari berbagai unsur.
Pada pembukaan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh memberi pengarahan dan presentasi kurikulum 2013. Mereka yang dilibatkan dalam uji publik yang berlangsung hingga 1 Desember nanti yakni anggota Komisi X DPR, nara sumber Wakil Presiden, Kemendikbud, Kementerian Agama, perguruan tinggi, unsur perwakilan agama, himpunan profesi, kepala dinas pendidikan provinsi, kopta/kabupaten, tim pengembang kurikulum, satuan pendidikan, serta unsur lain yang relevan.
Khairil Anwar Notodiputro, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, mengatakan, konsep pengembangan kurikulum pada tingkat nasional dilakukan dengan menyusun kurikulum, panduan pelaksanaan kurikulum, dan pembelajaran, serta model teks buku pelajaran.
Uji publik tersebut bertujuan untuk mengomunikasikan prosedur dan hasil pengembangan kurikulum 2013, mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan pendidikan nasional dari berbagai lapisan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu, untuk menyempurnakan dokumen kurikulum 2013 berdasarkan hasil masukan dari uji publik. Juga untuk memetakan dukungan publik terhadap pengembangan kurikulum 2013.
Continue reading →

Ini Alasan Dirombaknya Kurikulum

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com — Kontroversi terhadap perubahan kurikulum ini terus bermunculan. Banyak pihak menanyakan alasan digantinya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013 dengan standar isi yang jauh berbeda, khususnya untuk pendidikan tingkat dasar.

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Ditjen Dikdas Kemendikbud Ibrahim Bafadal mengatakan bahwa perubahan ini juga melihat kondisi yang ada selama beberapa tahun ini. KTSP yang memberi keleluasaan terhadap guru membuat kurikulum secara mandiri untuk masing-masing sekolah ternyata tak berjalan mulus.

"Tidak semua guru memiliki dan dibekali profesionalisme untuk membuat kurikulum. Yang terjadi, jadinya hanya mengadopsi saja," kata Ibrahim ketika dijumpai seusai Pemberian Penghargaan Siswa Berprestasi Tingkat Internasional dan Penganugerahan Piala Apresiasi Sastra Bagi Peserta Didik Sekolah Dasar, di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Rabu (28/11/2012).

Untuk itu, kurikulum yang baru ini dibuat dan dirancang oleh pemerintah, terutama untuk bagian yang sangat inti. Dengan demikian, pihak sekolah dan guru tinggal mengaplikasikan saja pola yang sudah dimasukkan dalam struktur kurikulum untuk masing-masing jenjang tersebut.

Ia mengakui bahwa untuk tingkat SD terjadi perubahan yang cukup besar mengingat basis tematik integratif yang dianut saat ini. Mata pelajaran yang dulu ada 10 bidang dikurangi menjadi tersisa enam mata pelajaran saja dengan pembagian empat mata pelajaran utama dan dua mata pelajaran muatan lokal.

"Jadi untuk pendidikan dasar, kami ambil yang sangat inti, seperti PPKn, Agama, Bahasa Indonesia, dan Matematika," ungkap Ibrahim.

"Kami yakin dengan revisi ini, pendidikan di Indonesia akan menghasilkan generasi yang jauh lebih baik lagi dan siap menjawab tantangan ke depan," tandasnya.
Continue reading →

Mending 'Mentoring' daripada Tambah Durasi Belajar

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Penambahan durasi belajar dalam perubahan kurikulum ini masih dianggap wajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dibandingkan negara lain, Indonesia memang masih memenuhi kuota untuk menambah durasi belajar.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Raihan Iskandar, mengatakan bahwa penambahan durasi belajar untuk para peserta didik ini tidak perlu dilakukan. Dengan durasi singkat, anak-anak juga tetap bisa belajar optimal seperti yang dilakukan di Finlandia.

"Mendikbud sendiri menyadari jumlah jam belajar di Finlandia lebih singkat dari pada di Indonesia. Jadi tak masalahnya kita juga seperti itu," kata Raihan saat dihubungi, Kamis (29/11/2012).

Kendati demikian, ia menjelaskan bahwa durasi singkat tersebut tetap harus diimbangi dengan kelompok mentoring atau tutorial terhadap peserta didik. Hal ini cukup ampuh dilakukan di Finlandia karena dapat dengan mudah menjangkau siswa yang kesulitan belajar.

"Inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan pendidikan di sana. Metode mentoring ini sangat efektif daripada metode tatap muka di kelas," jelas Raihan.

Metode mentoring ini dilakukan dengan pembagian siswa ke dalam kelompok belajar yang beranggotakan sekitar 10-12 siswa dan seorang guru sebagai fasilitatornya. Dengan demikian, hubungan guru dan murid terjalin lebih baik dan lebih nyaman untuk belajar.

"Tingkat penyerapan ilmu, nilai dan karakter siswa bisa lebih maksimal dibandingkan dengan metode tatap muka di kelas," ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan hal senada bahwa Finlandia memiliki durasi belajar tersingkat. Namun selepas sekolah anak-anak tersebut didampingi seorang guru untuk mentoring atau tutorial.

Hal ini berjalan lancar di Finlandia karena jumlah populasi di sana tidak terlampau banyak. Kemudian perbandingan antara jumlah siswa dengan guru seimbang sehingga metode mentoring ini bisa diterapkan dan terus berjalan.

"Di Indonesia ini, jumlah siswanya banyak. Gurunya masih banyak yang kurang. Tapi kami segera cari solusi. Metode tutorial juga bisa dijadikan pilihan tapi bukan untuk saat ini," kata Nuh.
Continue reading →

Kurikulum 2013 Diprediksi Juga Bakal Berumur Pendek

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dijalankan sejak tahun 2006 akan segera digantikan oleh Kurikulum 2013 mulai Juni tahun depan. Namun kurikulum baru ini diprediksi tidak akan jauh berbeda nasibnya dengan kurikulum sebelumnya.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Raihan Iskandar, mengatakan bahwa perubahan kurikulum yang ada saat ini hanya fokus pada materi ajar saja. Sementara aspek pedagogik atau metode pengajaran yang dilakukan di sekolah tidak mengalami perubahan yang signifikan.

"Perubahan kurikulum ini masih fokus pada aspek materi ajar tanpa merevisi aspek guru dan pedagogiknya. Sebagus apapun materi ajar tidak akan diserap optimal oleh peserta didik tanpa pola ajar yang baik," kata Raihan saat dihubungi, Kamis (29/11/2012).

"Nanti ujung-ujungnya, kurikulum 2013 tidak akan berguna. Cuma sebentar saja kurikulum direvisi lagi. Gonta-ganti kurikulum seperti ini tidak akan efektif," imbuh Raihan.

Ia menegaskan bahwa aspek pedagogik yang berhubungan dengan guru ini sangat penting. Pasalnya, guru merupakan eksekutor yang menentukan berhasilnya penerapan kurikulum terhadap para peserta didik di sekolah. Untuk itu, pembahasan di tingkat atas mestinya menyinggung juga masalah ini bukan hanya sibuk berdebat masalah jumlah mata pelajaran.

Selanjutnya, ia mempertanyakan bentuk pembelajaran dari kurikulum baru ini. Pihak kementerian selalu menyebut bahwa dengan kurikulum baru ini, anak-anak yang diminta aktif mencari tahu sedangkan guru hanya mengarahkan anak-anak ini untuk melakukan observasi sendiri.

"Kurikulum baru ini kan maunya siswanya yang aktif. Tapi bagaimana bentuknya? Sepertinya ya masih tatap muka di kelas juga," ujar Raihan.

Hal serupa pernah diungkapkan oleh Direktur Institute of Education Reform of Universitas Paramadina, Utomo Dananjaya bahwa selama ini kurikulum hanya dianggap semacam daftar mata pelajaran saja. Akibatnya, cara pandang yang salah tentang kurikulum ini juga membuat pola yang salah saat mengubah kurikulum.

"Pengurangan dan penambahan mata pelajaran itu bukan makna dari kurikulum. Jadi, jangan memandang kurikulum hanya mata pelajaran saja agar tidak salah sasaran," ujar Utomo.
Continue reading →

Pelatihan Guru untuk Penerapan Kurikulum 2013

0 komentar

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak pihak menilai bahwa jalannya penerapan kurikulum baru pada tahun 2013 di lapangan akan terseok. Pasalnya, persiapan perubahan kurikulum yang dikabarkan telah dilakukan sejak 2010 tidak menyentuh guru sama sekali. Padahal guru merupakan ujung tombak dari implementasi kurikulum ini.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim mengatakan bahwa ada waktu sekitar enam bulan pelatihan komprehensif terhadap guru yang ada di seluruh Indonesia untuk mengenal kurikulum 2013 agar implementasi di lapangan kepada anak didiknya dapat berjalan dengan lancar.

"Kami sudah siapkan pelatihan bagi para guru agar mampu menjalankan kurikulum baru pada 2013 ini dengan baik," kata Musliar saat dihubungi, Kamis (29/11/2012).

Tidak hanya itu, pelatihan yang didasarkan pada hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) beberapa waktu lalu juga akan dijadikan wadah untuk membina para guru agar mampu memahami konsep kurikulum 2013. Dengan demikian, saat penerapan kurikulum dilaksanakan tidak ada lagi kendala yang berakibat tidak tercapainya sasaran kurikulum baru ini.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat uji publik, para guru ini juga akan diberi ruang untuk berpendapat terkait kurikulum baru ini. Sehingga kurikulum yang diberlakukan pada tahun depan juga merupakan hasil dari urun rembug semua elemen masyarakat termasuk guru.

"Guru ini yang tahu bagaimana baiknya di lapangan. Mereka yang akan melakukannya. Jadi mereka harus paham benar. Jadi tentu saja, kami libatkan mereka dan kami persiapkan mereka dengan baik," tandasnya.
Continue reading →

Sulit Terapkan Kurikulum 2013 Tanpa Persiapkan Guru

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan memulai rangkaian uji publik terhadap kurikulum baru yang akan diterapkan pada tahun 2013, Kamis (29/11/2012) malam. Namun, kata sepakat tentang penerapan kurikulum ini ternyata belum hadir di gedung rakyat.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PPP, Reni Marlinawati, menilai, perubahan kurikulum dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ke Kurikulum 2013 ini dinilai tergesa-gesa. Dia mengaku khawatir bahwa kurikulum baru ini tak akan bertahan lama karena terganjal implementasi.

"Rencana perubahan kurikulum sekolah untuk 2013 nanti, menurut saya merupakan langkah yang tergesa-gesa. Ini bukan perkara ringan. Masalah implementasi kurikulum ini sudah dipikirkan belum. Guru harus disiapkan benar," kata Reni, saat dihubungi, Kamis (29/11/2012).

Menurutnya, salah satu elemen penting dalam implementasi kurikulum adalah guru. Oleh karena itu, guru harus dipersiapkan dengan matang untuk memahami konsep kurikulum yang akan diterapkan pada anak didiknya.

"Guru-guru di Indonesia ini paling tidak harus diberi pembinaan untuk implementasi kurikulum ini paling tidak selama tiga tahun," jelas Reni.

Beberapa waktu lalu, pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Lody Paat mengatakan bahwa permasalahan utama dalam pemberlakuan kurikulum baru ini adalah implementasinya. Secara konsep, kurikulum baru ini memang menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang sebelumnya.

"Tapi saya jamin implementasinya tidak akan mulus karena persiapannya terutama untuk para guru tidak dibekali pemahaman konsep yang matang,"
sumber : kompas.com
 
Continue reading →

Anak Tak Akan Lagi Mengeluh Tasnya Berat

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Jelang uji publik terhadap kurikulum baru yang akan dijalankan pada 2013 mendatang, berbagai isu yang menjadi alasan perubahan kurikulum bermunculan. Satu isu yang santer berhembus adalah perubahan kurikulum ini tentang beban buku pelajaran yang dibawa anak-anak usia sekolah setiap hari, termasuk oleh cucu salah satu petinggi negeri ini.

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Ditjen Dikdas Kemdikbud, Ibrahim Bafadal, menampik isu yang berkembang di tengah masyarakat tersebut. Perubahan ini terjadi karena kurikulum yang saat ini dijalankan tidak berjalan mulus dan perkembangan zaman yang menuntut adanya pembaharuan.

"Memang banyak orang bilang bahwa berat badan anak-anak SD zaman sekarang lebih kecil daripada tas sekolahnya. Tapi bukan karena isu seperti itu terus jadi alasan utama diubah kurikulumnya," kata Ibrahim seusai Pemberian Penghargaan Siswa Berprestasi Tingkat Internasional dan Penganugerahan Piala Apresiasi Sastra Bagi Peserta Didik Sekolah Dasar di Gedung A Kemdikbud, Jakarta, Rabu (28/11/2012).

Seperti diketahui, kurikulum 2013 yang akan diuji oleh publik pada Kamis (29/11/2012) besok memang tidak membutuhkan banyak buku dalam sehari. Pasalnya, anak-anak ini akan belajar berdasarkan tema bahasan bukan lagi berdasarkan masing-masing mata pelajaran. Dengan demikian, anak-anak cukup membawa satu buku cetak untuk tema tertentu dalam sehari.

Pendekatan metode ajar pada anak-anak SD berbasis tematik ini akhirnya memangkas jumlah mata pelajaran yang semula berjumlah 10 menjadi enam yaitu PPKn, Agama, bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani Kesehatan. Sementara pelajaran sains yaitu IPA dan IPS dijadikan penggerak tema untuk enam mata pelajaran ini.

"Mata pelajarannya memang jadi sedikit. Tapi tema yang diambil itu justu membuat anak belajar lebih dalam. Jadi intinya sedikit tapi dalam," jelas Ibrahim.

"Selain itu, kurikulum baru ini juga mencakup semua perkembangan baik dari afektif dan kognitif," tandasnya.
dikutip dari : kompas.com
Continue reading →
Senin, 26 November 2012

Wakil Walikota Bandung Akan Panggil Kadisdik Terkait Permasalahan Guru

0 komentar
Continue reading →

Merangsang Kecintaan Anak pada Alam Lewat Buku

0 komentar
Meningkatkan minat baca sekaligus memperkenalkan lingkungan hidup akan lebih mudah bila dimulai dengan menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap buku terlebih dahulu. Penanggung Jawab Pekan Buku Dyah Ayu Pitaloka mengatakan, dengan menggelar pameran buku anak-anak, siswa bisa belajar mencintai lingkungan.

Kecintaan pada buku dan lingkungan dikembangkan pula melalui pesta kostum karakter dari buku-buku Indonesia. Anak-anak diajak untuk menggali kekayaan isi buku sambil bermain dengan kostum karakter-karakter yang ada di dalamnya, mulai dari Wiro Sableng, Jaka Tarub, sampai Malin Kundang.

Buku anak yang mengandung pesan moral untuk mencintai lingkungan sekitar dan mengangkat wawasan kekayaan alam, akan memberi masukan yang baik soal penanaman karakter anak.

"Buku bacaan menarik seperti buku cerita anak yang membahas binatang, tanaman dan pemandangan alam, tersirat ada pesan bahwa mereka harus melindunginya, terlibat, dan interaksi dengan bumi. Kegiatan tur edukasi tadi misalnya, membuat anak-anak mau bergerak, membaca buku, menghafal lagu, dan mereka menanam pohon," katanya kepada Kompas.com usai mengikuti kegiatan tur, Kamis (8/11/2012) siang.

Menurut Dyah, pengetahuan yang diperoleh anak dari buku diperdalam melalui rangkaian kegiatan Tur Edukasi Bumiku Lestari. Tur yang digawangi oleh penyanyi Oppie Andaresta ini kaya akan pesan-pesan yang disampaikan melalui lagu, musik dan kegiatan langsung, seperti daur ulang. Anak-anak berkebutuhan khusus di SD Global Mandiri juga dilibatkan untuk bernyanyi.

"Dalam seminggu, mereka sudah hafal lagunya. Selain dari membaca buku Bumiku Lestari dari WWF, mereka juga setiap harinya mendengar Radio Top Primary, radio sekolah ini. Jadi semakin sering membaca dan mendengar, anak-anak bisa melakukan itu," ucapnya.

Para siswa kelas I-VI juga diajak untuk melakukan aksi menanam pohon. Ada 12 pohon yang ditanam pada hari itu oleh para siswa yang mewakili masing-masing kelas. Setelah itu, para siswa kelas IV, V dan VI melakukan kegiatan daur ulang dari kertas koran menjadi paper bag, membuat pigura dari kardus bekas, serta tempat pensil dari botol bekas.

Selanjutnya para siswa juga diajak menonton film tentang hewan yang hampir langka dan butuh dilindungi bersama. Film orangutan dari Kalimantan membuat anak-anak sadar bahwa ada satawa di muka bumi yang harus dilindungi dari ancaman kepunahan.

sumber : kompas.com
Continue reading →

Pemerintah Tak Serius, 96 Persen Daerah Masih Kekurangan Guru

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Penyebaran guru yang tidak merata di Indonesia kerap dikeluhkan kepada pemerintah. Namun sayangnya masalah ini tak kunjung terselesaikan, bahkan bukan hanya penyebarannya yang tak merata tapi juga banyak sekolah khususnya Sekolah Dasar (SD) yang kekurangan guru.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo, mengatakan bahwa kekurangan guru SD yang terjadi di nusantara saat ini tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah. Dari keluhan pada Agustus lalu yang menyebutkan bahwa 94 persen daerah mengalami kekurangan guru SD, tak ada perubahan hingga sekarang. Bahkan, menurutnya, saat ini tercatat kebutuhan guru di sekitar 96 persen kabupaten dan kota di seluruh Indonesia tak terpenuhi.

"Kekurangan guru SD ini sudah lama terjadi. Dari 497 kabupaten kota, hanya dua kabupaten kota saja yang sudah terpenuhi," kata Sulistiyo, saat jumpa pers di Kantor PGRI, Jalan Tanah Abang III, Jakarta, Senin (26/11/2012).

Bahkan ia mengatakan bahwa jumlah guru SD di ibukota saja masih kurang kuotanya. Minimnya jumlah guru SD ini, lanjutnya, dikarenakan banyak guru yang diangkat pada masa orde baru kini telah pensiun. Sementara itu, guru-guru muda yang ada saat ini tidak dilakukan pengangkatan.

"Ini hampir berjalan sekitar tiga tahun lebih karena pensiunan guru sangat besar dan tak ada gantinya," ungkap Sulistiyo.

Ia pun mengusulkan solusi untuk masalah ini dengan melaksanakan pengangkatan guru honorer yang ada saat ini terutama guru honorer yang menjalankan kewajibannya dengan baik. Selain untuk memenuhi kebutuhan jumlah guru yang kurang, pengangkatan ini juga dapat memberi jaminan pada guru honorer baik dari profesi maupun kesejahteraan.

"Jadi tidak hanya cukup memperbaiki distribusi tapi pengangkatan guru juga harus dipertimbangkan," tandasnya.
Continue reading →

PGRI: Guru Honorer Hidup Tak Layak

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Gegap gempita Hari Guru Nasional ternyata masih menyisakan nasib guru honorer yang tak juga ada kejelasan mengenai statusnya. Padahal tugas yang dijalankan oleh para guru honorer sama saja dengan yang dilakukan oleh para guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo, mengatakan bahwa ketidakjelasan status para guru honorer ini juga berpengaruh pada penghasilan dan tingkat kesejahteraan hidupnya. Ia mengungkapkan bahwa para guru honorer ini memperoleh penghasilan selalu di bawah standar upah minimum.

"Bayangkan saja, penghasilannya selalu di bawah upah minimum. Padahal kewajiban yang dijalankan sama. Ini tentu membuat guru-guru ini kesejahteraan hidupnya di bawah rata-rata," kata Sulistiyo, saat jumpa pers di Kantor PGRI, Jalan Tanah Abang III, Jakarta, Senin (26/11/2012).

Untuk itu, ia meminta pada pemerintah untuk mulai memperhatikan para guru honorer dan mengangkat yang telah memenuhi syarat sebagai PNS. Pasalnya, tidak sedikit guru honorer ini yang justru menunaikan kewajibannya sebagai pendidik dengan kapasitas lebih baik daripada guru yang memiliki status PNS.

Sedangkan bagi para guru honorer yang belum memenuhi syarat tapi dibutuhkan, dapat diangkat menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) dengan penghasilan yang sesuai dengan standar upah minimum. Selanjutnya secara prosedur kepegawaian, ia juga meminta agar para guru honorer diperlakukan setara dengan guru PNS.

"Banyak guru honorer yang kerjanya jauh lebih baik tapi tak mendapat hak yang layak karena status tersebut. Bahkan ada yang memperoleh gaji Rp 150.000 per bulan. Ini jauh dari kewajaran," ungkap Sulistiyo.

"Secara kepegawaian, mereka juga harus setara dengan guru PNS. Mereka juga berhak untuk mengikuti sertifikasi yang diadakan. Jika mau dilakukan, ini dapat menjawab kurangnya guru yang terjadi saat ini," tandasnya.
Sumber : kompas.com
Continue reading →

Ini Akibatnya Jika Tugas Guru Direduksi

0 komentar
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tidak pernah berhenti menggaungkan pendidikan karakter untuk anak bangsa. Namun sayangnya pendidikan karakter yang didengungkan tersebut masih jauh dari kata tercapai karena guru sebagai garda depan tak bekerja sesuai tugas utamanya.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo, mengatakan bahwa tugas utama guru yang sebenarnya tidak hanya mengajar saja tapi juga mendidik, membina dan mengevaluasi. Namun hal ini urung terwujud karena muncul batas minimum tatap muka guru dan murid yang harus dicapai sebagai syarat penilaian kinerja.

"Guru ini punya peran penting untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tapi dalam tugasnya saat ini telah tereduksi yaitu hanya mengajar saja," kata Sulistiyo, saat jumpa pers di Kantor PGRI, Jalan Tanah Abang III, Jakarta, Senin (26/11/2012).

Tak hanya itu, pembinaan kompetensi dan sertifikasi juga mengalami ketimpangan antara guru PNS dengan guru swasta dan honorer. Pasalnya, kesenjangan pembinaan kompetensi ini berpengaruh pada penilaian kinerja dan pengaturan kenaikan pangkat atau jabatan para guru ini.

"Banyak guru swasta yang sudah 20 tahun mengajar tapi tidak juga naik jabatannya. Ini harus diatur karena berkaitan juga dengan kesejahteraan mereka," ujar Sulistiyo.

Sementara itu, untuk uji kompetensi terhadap guru ini juga harus seimbang antara pengetahuan dengan keterampilan dan perilakunya. Tentu dengan cara seperti ini diharapkan akan mampu melahirkan guru yang inspirati dan berkarakter untuk anak bangsa.

"Jadi jangan hanya pengetahuan saja tapi juga kepribadian dan sosialnya. Contohnya ibu Muslimah di Laskar Pelangi, kalau di uji kompetensi mungkin tidak lulus tapi dedikasi kerja dan kepribadiannya sangat bagus. Yang seperti ini harus diperhatikan juga," ungkap Sulistiyo.

"Karena selama tugas guru terus direduksi maka pendidikan karakter tidak akan tercapai," tandasnya.

sumber : kompas.com
Continue reading →
Minggu, 04 November 2012

Mutu Pendidikan

0 komentar
Pemahaman dan pandangan tentang mutu pendidikan selama ini sangat beragam. Orangtua memandang pendidikan yang bermutu sebagai lembaga pendidikan yang megah, gedung sekolah yang kokoh dengan genting yang memerah bata, taman sekolah yang indah, dan seterusnya. Para ilmuwan memandang pendidikan bermutu sebagai sekolah yang siswanya banyak menjadi pemenang dalam berbagai lomba atau olimpiade di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Repatriat mempunyai pandangan yang berbeda lagi. Sekolah yang bermutu adalah sekolah yang memberikan mata pelajaran bahasa asing bagi anak-anaknya. Orang kaya tentu memiliki pandangan yang berbeda pula. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang diperoleh anaknya dengan membayar uang sekolah yang setinggi langit untuk memperoleh berbagai paket kegiatan ekstrakurikuler. Berbagai predikat lembaga pendidikan sekolah telah lahir, seperti sekolah favorit, sekolah unggulan, sekolah plus, kelas unggulan. Ada pula berbagai predikat lembaga pendidikan yang juga muncul bak jamur di musim penghujan, seperti boarding school, full day school, sekolah nasional berwawasan internasional, sekolah alam, dan sekolah berwawasan internasional. Semua sebutan itu tidak lain untuk menunjukkan aspek mutu pendidikan yang akan diraihnya.

Lalu, bagaimana sesungguhnya pendidikan yang bermutu tersebut? Dalam tulisan singkat ini akan dijelaskan secara sekilas tentang pandangan UNESCO tentang beberapa dimensi mutu pendidikan. Uraian tentang dimensi mutu pendidikan itu tertuang dalam buku EFA Global Monitoring Report 2005 atau Laporan Pemantauan Global Pendidikan Untuk Semua. Setiap tahun, UNESCO menerbitkan laporan tentang perkembangan pendidikan, baik pendidikan formal dan pendidikan informal, di berbagai belahan dunia.

Dalam bentuk diagramtis dimensi mutu pendidikan digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan diagram tersebut, tampak bahwa setidaknya ada lima dimensi yang terkait dengan mutu pendidikan.

Pertama, karakteristik pembelajar (learner characteristics)
Dimensi ini sering disebut sebagai masukan (inputs) atau malah masukan kasar (raw inputs) dalam teori fungsi produksi (production function theory), yaitu peserta didik atau pembelajar dengan berbagai latar belakangnya, seperti pengetahuan (aptitude), kemauan dan semangat untuk belajar (perseverance), kesiapan untuk bersekolah (school readiness), pengetahuan siap sebelum masuk sekolah (prior knowledge), dan hambatan untuk pembelajaran (barriers to learning) terutama bagi anak luar biasa. Banyak factor latar belakang peserta didik yang sangat mempengaruhi mutu pendidikan di negeri ini. Banyak anak usia sekolah yang tidak didukung oleh kondisi yang kondusif, misalnya peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu, keluarga pecah (broken home), kesehatan lingkungan, pola asuh anak usia dini, dan faktor-faktor lain-lainnya. Dimensi ini menjadi faktor awal yang mempengaruhi mutu pendidikan.   

Kedua, pengupayaan masukan (enabling inputs)
Ada dua macam masukan yang akan mempengaruhi mutu pendidikan yang dihasilkan, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya fisikal. Guru atau pendidik, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan lain menjadi sumber daya manusia (human resources) yang akan mempengaruhi mutu hasil belajar siswa (outcomes). Proses belajar mengajar tidak dapat berlangung dengan nyaman dan aman jika fasilitas belajar, seperti gedung sekolah, ruang kelas, buku dan bahan ajar lainnya (learning materials), media dan alat peraga yang dapat diupayakan oleh sekolah, termasuk perpustakaan dan laboratorium, bahkan juga kantin sekolah, dan fasilitas pendidikan lainnya, seperti buku pelajaran dan kurikulum yang digunakan di sekolah. Semua itu dikenal sebagai infrastruktur fisikal (physical infrastructure atau facilities). Singkat kata, mutu SDM yang tersedia di sekolah dan mutu fasilitas sekolah merupakan dua macam masukan yang sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan.

Ketiga, proses belajar-mengajar (teaching and learning)
Dimensi ketiga ini sering disebut sebagai kotak hitam (black box) masalah pendidikan. Dalam kotak hitam ini terdapat tiga komponen utama pendidikan yang saling berinteraksi satu dengan yang lain, yaitu peserta didik, pendidik, dan kurikulum. Tanpa peserta didik, siapa yang akan diajar? Tanpa pendidik, siapa yang akan mengajar, dan tanpa kurikulum, bahan apa yang akan diajarkan? Oleh karena itu mutu proses belajar mengajar, atau mutu interaksi edukatif yang terjadi di ruang kelas, menjadi faktor yang amat berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Efektivitas proses belajar-mengajar dipengaruhi oleh: (1) lama waktu belajar, (2) metode mengajar yang digunakan, (3) penilaian, umpan balik, bentuk penghargaan bagi peserta didik, dan (4) jumlah peserta didik dalam satu kelas.

Ruang kelas di Indonesia sangat kering dengan media dan alat peraga. Pakar pendidikan, Dr. Arif Rahman, M.Pd. sering menyebutkan bahwa ruang kelas kita ibarat menjadi penjara bagi anak-anak. Jika diumumkan ada rapat dewan pendidik, dalam arti tidak ada kelas, maka bersoraklah para siswa, ibarat keluar dari pintu penjara tersebut. Sesungguhnya, di sinilah kelemahan terbesar pendidikan di negeri ini. Proses belajar mengajar di ruang kelas kita sangat kering dari penggunaan teknik penguatan (reinforcement), kering dari penggunaan media dan alat peraga yang menyenangkan. Dampaknya, dapat diterka, yaitu hasil belajar yang belum memenuhi standar mutu yang ditentukan. Sentral permasalahan lemahnya proses belajar mengajar di dalam kelas ini, sebenarnya sudah diketahui, yakni kualifikasi dan kompetensi guru. Setengah guru kita belum memenuhi standar kualifikasi. Apalagi dengan standar kompetensinya. Timbullah istilah ‘guru tak layak’. Belum lagi dengan masalah kesejahteraannya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa semua masalah bersumber dari masalah kesejahteraan. Memang, kesejahteraan guru menjadi salah satu syarat agar guru dapat disebut sebagai profesi, selain (1) memerlukan keahlian, (2) keahlian itu diperoleh dari proses pendidikan dan pelatihan, (3) keahlian itu diperlukan masyarakat, (4) punya organisasi profesi, (5) keahlian yang dimiliki dibayar dengan gaji yang memadai (Suparlan, 2006).    

Keempat, hasil belajar (outcomes)
Hasil belajar adalah sasaran yang diharapkan oleh semua pihak. Di sini memang terjadi perbedaan harapan dari pihak-pihak tersebut. Pihak dunia usaha dan industri (DUDI) mengharapkan lulusan yang siap pakai. Pendidikan kejuruan dipacu agar dapat memenuhi harapan ini. Sedang pihak praktisi pendidikan pada umumnya cukup berharap lulusan yang siap latih. Alasannya, agar DUDI dapat memberikan peran lebih besar lagi dalam memberikan pelatihan.

Setidaknya, semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan menghasilkan lulusan yang dapat membaca dan menulis (literacy), berhitung (numeracy), dan kecakapan hidup (life skills) Ini memang pasti.  Selain itu, peserta didik harus memiliki kecerdasan emosional dan sosial (emotional dan social intelligences), nilai-nilai lain yang diperlukan masyarakat. Terkait dengan berbagai macam kecerdasan, Howard Gardner menegaskan bahwa “satu-satunya sumbangan paling  penting untuk perkembangan anak adalah membantunya untuk menemukan bidang yang paling cocok dengan bakatnya” (Daniel Goleman, 2002: 49, dalam Suparlan, 2004: 39). Hasil belajar yang akan dicapai sesungguhnya yang sesuai dengan potensinya, sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta sesuai dengan tipe kecerdasannya, di samping juga nilai-nilai kehidupan (values) yang diperlukan untuk memeliharan dan menstransformasikan budaya dan kepribadian bangsa. Dalam perspektif psikologi pendidikan dikenal sebagai ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam perspektif sosial dikenal dengan istilah 3H (head, heart, hand). Tokoh pendidikan dari Minang mengingatkan bahwa “Dari pohon rambutan jangan diminta berbuah mangga, tapi jadikanlah setiap pohon mangga itu menghasilkan buah mangga yang manis” (Muhammad Sjafei, INS). Semua itu pada dadarnya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional “…. berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).  

Kelima, konteks (contexts) atau lingkungan (environments)
Keempat dimensi yang telah dijelaskan tersebut saling pengaruh-mempengaruhi dengan konteks (contexts) atau lingkungan (environments) yang meliputi berbagai aspek alam, sosial, ekonomi, dan budaya, sebagai berikut:
  • Economics and labour market conditions in the community atau kondisi pasar ekonomi dan pasar dalam masyarakat.
  • Socio-cultural and religious factors atau faktor religius dan sosip-kultural.
  • Educational knowledge and support infrastructure atau pengetahuan dan infrastruktur yang mendukung dunia pendidikan.
  • PUBLIC RESOURCES AVAILABLE FOR EDUCATION atau ketersediaan sumber-sumber masyarakat untuk pendidikan.
  • Competitiveness of the teaching profession on the labour market atau daya saing profesi mengajar pada pasar tenaga kerja.
  • National governance and management strategies atau strategi manajemen dan tata kelola pemerintahan.
  • Philosophical standpoint of teacher and learner atau pandangan filosofis guru dan peserta didik.
  • Peer effects atau pengaruh teman sebaya.
  • PARENTAL SUPPORT atau dukungan orangtua atau keluarga.
  • Time available for schooling and home works atau ketersediaan waktu untuk sekolah dan PR.
  • National standards atau standar-standar nasional.
  • PUBLIC EXPECTATIONS atau harapan masyarakat.
  • Labour market demands permintaan pasar tenaga kerja.
  • Globalization atau globalisasi.
Pada awalnya, peran orangtua (rumah) dan keluarga belum dipandang sebagai dimensi yang benar-benar berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Sekarang dukungan orangtua menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Dalam kajian tentang sekolah efektif (effective school), dukungan orangtua siswa dan masyarakat menjadi salah satu faktor dalam sekolah efektif.

Hasil lima kajian tentang sekolah efektif menjelaskan tentang faktor-faktor dalam sekolah efektif dapat dijelaskan dalam tabel berikut: 

Tabel 1 Hasil Lima Studi Tentang Sekolah Efektif 
Purkey & Smith,
1983
Levine & Lezotte, 1990
Scheerens,
1992
Cotton,
1995
Sammons, Hillman & Mortimore, 1995
·    Strong leadership ·  Outstanding leadership ·  Educational leadership ·   School management and organization, leadership and school inprovement, leadership and planning ·    Professional leadership
·    Clear goals on basic skills ·  Focus on central learning skills ·  - ·   Planning and learning goals and school-wide emphasis on learning ·    Concentration on teaching and learning
·    Orderly climate, achievement-oriented policy, cooperative atmosphere ·  Productive climate and culture ·  Pressure to achieve, consensus, cooperative planning, orderly atmosphere ·   Planning and learning goals, curriculum planning and development ·    Shared vision and goals, a learning environment, positive reinforcement
·    High expectations ·  High expectations ·  - ·   Strong teacher-student interaction ·    High expectation
·    Frequent evaluation ·  Appropriate monitoring ·  Evaluative potential of the school, monitoring of pupil progress ·   Assessment (district, school, classroom level) ·    Monitoring progress
·    Time on task, reinforcement, streaming ·  Effective instructional arrangements ·  Structured teaching, effective learning time, opportunity to learn ·   Classroom management, organization and instruction ·    Purposeful teaching
·    In-service training/ staff development ·  Practice-oriented staff development ·  - ·   Professional development and collegial learning ·    A learning organization
·   - ·  Slient parental involvement ·  Parent support ·   Parent-community involvement ·   Home-school partnership
·    - ·  - ·  External stimuli to make schools effective
·  Phisical and material school characteristics

·  Teacher experience

·  School context characteristics
·   Distinct school interactions
·   Equity

·   Special programmes
·    Pupil rights and responsibilities
 Sumber: EFA Global Monitoring Report 2005, hal. 66
 Tabel tersebut menjelaskan bahwa salah satu faktor sekolah efektif dikenal sebagai ‘keterlibatan orangtua’, ‘dukungan orangtua’, ‘keterlibatan orangtua-msyarakat’, atau ‘hubungan keluarga-sekolah’. Dari beberapa faktor sekolah efektif tersebut, hasil studi di negara maju menunjukkan adanya lima faktor yang paling berpengaruh terhadap efektivitas suatu sekolah (EFA Global Monitoring Report 2005, hal. 66), yaitu:
  1. strong eduational leadership -> terkait dengan pendidik dan tenaga kependidikan (masukan); 
  2. emphasis on acquiring basic skills -> terkait dengan kurikulum (masukan; 
  3. an orderly and secure environment -> terkait dengan konteks (lingkungan); 
  4. high expectations of pupil attainment -> terkait dengan peserta didik (masukan kasar); 
  5. frequent assessment of pupil progress -> terkait dengan proses belajar-mengajar (proses).  
Apabila dikaitkan antara kelima faktor sekolah efektif tersebu dengan lima dimensi mutu pendidikan yang telah dijelaskan sebelumnya, tampak nyata bahwa kelima faktor tersebut dalam tulisan ini juga dikenal sebagai dimensi-dimensi mutu pendidikan. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa sekolah efektif tidak lain dan tidak bukan adalah juga sebutan untuk pendidikan yang bermutu. Sudah tentu juga ditambah dengan faktor-faktor sekolah efektif lainnya, termasuk peran dan dukungan orangtua dan masyarakat, yang diwadahi dalam lembaga yang dikenal dengan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di muka, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: (1) mutu pendidikan memiliki lima dimensi yang saling terkait, (2) lima dimensi mutu pendidikan pada hakikatnya juga merupakan faktor-faktor yang membentuk sekolah efektif, (3) sekolah yang efektif, dengan kata lain, dapat disebut sebagai sekolah yang bermutu, (3) dukungan orangtua dan masyarakat terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan disalurkan melalui wadah lembaga sosial yang kini dikenal dengan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
 

Continue reading →

Sistem Pendidikan

0 komentar
Ketika dunia pendidikan kembali dituding telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik. Maka, seperti biasa, segera muncul saran untuk memperbaiki kurikulum atau muatan pada mata ajaran. Tapi, bila sebelumnya yang dipersoalkan hanya sebatas masalah mata pelajaran atau paling jauh struktur kurikulum, Ajip Rosidi dan mungkin banyak dari kalangan pemerhati dan pelaku pendidikan, mempersoalkan hal yang lebih mendasar. Yakni tentang sistem pendidikan nasional yang ditudingnya masih mewarisi sistem pendidikan kolonial.

Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka watak sekuler-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan.

Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan “agama” di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.

Pendidikan Sekuler bagian dari Kehidupan Sekuuler
Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.

Solusi Fundamental
Pendidikan yang materialistik adalah buah dari kehidupan sekuleristik yang terbukti telah gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang Abidu al-Shalih yang muslih. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, paradigma pendidikan yang keliru dimana dalam sistem kehidupan sekuler, asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik, yakni sekedar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.

Kedua, kelemahan fungsional pada tiga unsur pelaksana pendidikan, yakni (1) kelemahan pada lembaga pendidikan formal yang tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya, (2) kehidupan keluarga yang tidak mendukung, dan (3) keadaan masyarakat yang tidak kondusif .

Tidak berfungsinya guru/dosen dan rusaknya proses belajar mengajar tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak tidak lagi pantas diteladani.

Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orang tua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya, makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.

Sementara itu, masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan tak acuh pada norma agama; berita-berita pada media masa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negatif seperti pornografi dan kekerasan, serta langkanya keteladanan pada masyarakat. Kelemahan pada unsur keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak menginjeksikan beragam pengaruh negatif pada anak didik. Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negatif kepada pribadi anak didik.

Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental, dan itu hanya dapat diujudkan dengan Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental, dan itu hanya dapat diujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam. Sementara pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan Islam.

Solusi pada Tataran Paradigmatik.
Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/kampus yang akan dikembangkan. Sekalipun pengaruhnya tidak sebesar unsur pendidikan yang lain, penyediaan sarana dan prasarana juga harus mengacu pada asas di atas.

Melihat kondisi obyektif pendidikan saat ini, langkah yang diperlukan adalah optimasi pada proses-proses pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) dan penguasaan tsaqofah Islam serta meningkatkan pengajaran sains-teknologi dan keahlian sebagaimana yang sudah ada dengan menata ontologi, epistemologi dan aksiologi keilmuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sekaligus mengintegrasikan ketiganya.)

Solusi pada Tataran Strategi Fungsional

Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga, sekolah/kampus dan masyarakat. Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat. Sementara, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.

Dalam pandangan sistem pendidikan Islam, semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama, Kondisi tidak ideal seperti diuraikan di atas harus diatasi.

Solusi strategis fungsional sebenarnya sama dengan menggagas suatu sistem pendidikan alternatif yang bersendikan pada dua cara yang lebih bersifat strategis dan fungsional, yakni: Pertama, membangun lembaga pendidikan unggulan dimana semua komponen berbasis paradigma Islam, yaitu: (1) kurikulum yang paradigmatik, (2) guru/dosen yang profesional, amanah dan kafa’ah, (3) proses belajar mengajar secara Islami, dan (4) lingkungan dan budaya sekolah/kampus yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. Dengan melakukan optimasi proses belajar mengajar serta melakukan upaya meminimasi pengaruh-pengaruh negatif yang ada, dan pada saat yang sama meningkatkan pengaruh positif pada anak didik, diharapkan pengaruh yang diberikan pada pribadi anak didik adalah positif sejalan dengan arahan Islam.

Kedua, membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keduanya dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sinergi pengaruh positif dari faktor pendidikan sekolah/kampus – keluarga – masyarakat inilah yang akan membuat pribadi anak didik terbentuk secara utuh sesuai dengan kehendak Islam.

Berangkat dari paparan di atas, maka untuk mewujudkan lembaga pendidikan unggulan yang dimaksud setidaknya terdapat empat komponen yang harus dipersiapkan guna menunjang tindak solusif sebagaimana yang digagas, yakni penyiapan kurikulum paradigmatik, sistem pengajaran, sarana prasarana dan sumberdaya guru/dosen. (aliya)
Continue reading →

ADA APA DENGAN GURUKU?

0 komentar
Acap kali, dahulu semua lapisan masyarakat sangat menghormati jasa seorang guru. karena dengan adanya seorang guru kini masa depan generasi muda menjadi cerah, dan tidak ketinggalan dalam hal ilmu pengetahuan ataupun yang lainnya. karena dengan proses belajar mengajarlah seorang siswa dan guru akan bekerjasama untuk mensukseskan tujuan pendidikan tersebut.
    Seorang guru akan berusaha mendidik siswanya sampai mereka mengerti dan paham atas apa yang diajarkannya, bahkan seorang guru rela berkorban demi menghasilkan siswa-siswi yang berkualitas dalam ilmu pendidikan.
    Akan tetapi, lain halnya dengan predikat guru saat ini, yang sudah mulai diabaikan bahkan oleh para siswa-siswinya sendiri. Ada apa dibalik semua itu? semua itu terjadi akibat kecerobohan guru itu sendiri. guru berusaha mendidik dan mengajarkan siswa-siswinya sampai mereka mengerti dan paham. bahkan seorang guru sangat sabar ketika menghadapi siswa yang sulit untuk dididik. akan tetapi ketelatenanlah yang menjadikan siswa-siswinya akhirnya dapat paham dan mengerti apa yang diajarkan oleh guru. namun semua pengajaran yang diberikan oleh seorang guru selama ini, terasa tidak ada artinya tatkala UN tiba. mengapa demikian? karena jika kita lihat dari awal siswa-siswi masuk sekolah mereka diberikan pemahaman-pemahaman dan pengajaran secara terus-menerus, akan tetapi tatkala UN itu tiba guru tersebut jugalah yang malah memberitahu atas kunci jawaban tersebut. karena kekhawatiran para guru terhadap siswa-siswinya tidak lulus saat UN.
    Dengan demikian dapat diartikan bahwa dengan sebuah nilai mereka dapat menyatakan sebuah kelulusan tanpa memikirkan kualitas dan jerihpayah seorang guru selama ini.
    Para guru tersebut menganggap dengan seperti itu mereka menyayangi siswa-siswinya. padahal anggapan tersebut salah besar. justru malah mengajarkan para siswa-siswinya menjadi generasi muda yang tidak jujur. karena dengan tindakan seperti itu, selain menjadi bodoh juga secara tidak langsung telah melahirkan generasi muda yang tidak mandiri.
Continue reading →

Inginkah Berkualitas Pendidikan Bangsa ??

0 komentar
  Kondisi pendidikan di Indonesia sangat memperihatikan. Betapa tidak ! banyak sekolah-sekolah terutama didaerah-daerah terpencil yang sarana dan fasilitasnya terbatas. Bagaimana caranya agar pendidikan bangsa kita benar – benar berkualitas ? apakah
-    Dilengkapi sarana dan fasilitas setiap sekolah yang memadai seperti computer, ruangan laboratorium praktek IPA, KIMIA,Internet.
-    Dilengkapi perpustakaan yang referensi-referensi bukunya ada dari luar dan dalam negeri.
-    Mengadakan study banding dari daerah ke pusat atau keluar negeri
-    Mendatangkan guru – guru dari luar negeri seperti dari Amerika yang terkenal negara super power, jepang Belanda dll. Atau dari negara manapun yang berkualitas pendidikannya bagus.
Jelas kita lihat dilapangan kualitas pendidikan yang bermutu / bagus biaya pendidikannya mahal dan sebaliknya pendidikan yang berkualitas rendah biaya pendidikannya dapat dijangkau/murah.
Biaya pendidikan sekarang sangat mahal mulai dari tingkat TK sampai dengan perguruan tinggi, banyak orang tua mengeluh.
Mahalnya bayaran sekolah tidak sesuai dengan sarana fasilitas yang ada disekolah tersebut melihat di media-media TV, surat kabar, Internet bahwa banyak bangunan sekolah yang ambruk bangunannya dan anak-anak sekolah diliburkan atau belajar di alam terbuka. Antara daerah dan pusat sangat jauh perbandingan kelengkapan kemajuan fasilitas sarananya begitu juga pengaplikasikan pembelajarannya apakah dipengaruhi :
-    pola pembelajaran di Indonesia masih banyak menggunakan teori – teori lisan dan pengaplikasian prakteknya kurang sekali.
-    Adanya pembelajaran teori sama praktek hampir sejalan tetapi karena keterbatasan fasilitasnya jadi tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Kita harus bisa mencontoh atau belajar dari jepang yang dunia pendidikannya begitu bagus/berkualitas, anak-anak sekolahnya masih muda-muda sudah bisa berpotensi menciptakan kreasi yang menghasilkan, seperti menciptakan robot, mainan alat-alat tulis, malsya juga dunia pendidikan bagus pada hal malasya itu awalnya menimpor guru dari Indonesia. Dalam suatu majalah Asia Week dinyatakan Indonesia belum masuk 20 besar dibidang kemajuan saince dan technology, tapi masih dalam urutan 21 termasuk ITB. Kalau dipusat kita lihat sarana-prasarana sudah mulai memadai muali fasilitas laboratorium, praktek IPA,KIMIA,Komputer,Internet termasuk perpusatkaannya jadi anak didiknya lebih berwawasan luas, mengenai perkembangan ilmu dari segi teknologi maupun dari segi lainnya.
Ini sangat menyedihkan mengapa dibilang sedih, karena pada waktu ujiannya sama sebagai penentu lulus tidkanya siswa tersebut, kalau fasilitas sekolah tersebut, itu akan menunjang atau mencetak generasi-genersai yang berkualitas lebih bisa menghadapi tantangan hidup. Masa sekarang dan akan datang .
Disinilah peranan keterkaitan pemerintah dalam penyediaan sarana prasarana sangat diharapkan, sebenarnya dari hasil penelitian/riset/surfe dana untuk dunia pendidikan itu sangat besar, tapi karena banyak disalah gunakan jadi tidak sampai kepada yang membutuhkan. Ini juga bisa dipengaruhi birokrasi yang tidak dapat menerapkan dana tersebut. Atau karena birokrasi yang tidak bersih seperti dalam dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dimana diisukan bahwa dana BOS tersebut akan dicabut karena pengeluarannya yang tidak tepat, bisa karena birokrat yang tidak amanah atau fakta lainnya.
Mudah-mudahan untuk kedepannya kita harapkan pemerintah lebih memperhatikan dunia pendidikan Indonesia terutama didaerah-daerah.
Dunia pendidikan ini bukan hanya dititik beratkan kepada pemerintah tapi juga orang tua, keluarga dan masyarakat.
Orang tua berperan selain membiayai sekolahnya :
-    Memenuhi fasilitas yang benar menunjang kemajuan intelektual anak tersebut
-    Memberi pengarahan
-    Memberi latihan
-    Memberi bimbingan
-    Memberi pembiayaan dan pembelajaran sopan santun
Sedangkan masyarakat disini menyangkut beberapa instansi lembaga dan punsi-pungsinya agar menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman agar proses pendidikan berjalan dengan baik, atau masyarakat memberi cerminan yang positif.
Marilah kita saling mendukung, berpartisipasi untuk kemajuan pendidikan bangsa kita saling mendukung, berpatisipasi untuk kemajuan pendidikan bangsa kita ini untuk mencetak generasi-generasi yang benar-benar berpotensi positif dan berbakat.
Continue reading →

KEPRIBADIAN PENDIDIKAN INDONESIA

0 komentar
Berbicara mengenai pendidikan dinegeri ini memang tidak akan pernah ada habisnya.Didalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, banga dan negara. sudahkan pendidikan kita sesuai dengan isi UU terebut? jawabannya tentulah belum.
Kondisi pendidikan kita saat ini begitu menyedihkan. ada banyak hal yang harus dibenahi dalam pendidikan kita ini, mengingat pendidikan adalah investasi  masa depan bangsa dan pengaruh dinamis terhadap perkembangan jasmani dan rohani atau kejiwaan anak bangsa kita , dimana mereka dididik agar bisa meneruskan gerak langkah kehidupan bangsa ini agar menjadi bangsa yang maju, berpendidikan dan bermoral. ini tentunya akan menjadi tugas dan tanggung jawab banyak pihak , orang tua, para pendidik (sekolah), masyarakat dan juga pemerintah. kewajiban kita untuk mengembalikan kondisi pendidikan kita ini agar menjadi pendidikan yang terbaik, bermutu serta cerdas dalam IPTEK dan IMTAQ. pendidikan yang bertujuan untuk membentuk generasi muda menjadi manusia haruslah menyangkut unsur-unsur spiritual, moralitas, sosialitas dan rasionalita, tidak hanya menekankan segi pengetahuan saja (kognitif)tetapi harus menekankan segi emosi, rohani dan hidup bersama. begitu juga dengan Ujian Nasional yang pemerintah canangkan sebagai bentuk penilaian terhadap hasil belajar siswa. kegiatan ini hendaknya tidak hanya sekedar menguji akan kemampuan siwa dalam hal lmu pengetahuan, akan tetapi juga menguji akan kemmpuan siswa dalam kerohaniannya. sesuai dengan tujuan dalam UU bahwa peserta didik hendaknya memiliki kekuatan spiritual keagamaan.
    Peserta terbunuhnya praja IPDN akibat pemukulan yang dilakukan seniornya telah mencoreng muka dunia pendidikan di indoneia. praja yang dididik untuk menjadi pengayom masyarakat malah menjadi pembunuh yang berdarah dingin. peristiwa IPDN tersebut merupakan salah satu dari bentuk penerapan sistem pendidikan yang sangat buruk. agar sistem pendidikan itu baik harulah memenuhi unsur-unur seperti yang tercantum diatas, tak lupa harus disertai dengan pengaturan internal pendidikan itu sendiri yaitu adanya penentuan kurikulum. kurikulum ini terkait dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai , artinya kurikulum yang menggambarkan kualitas lulusan yang akan dihasilkan, agar tercipta proses yang handal dalam rangka menghasilkan output yang memiliki mutu tinggi, berkepribadian baik, islami dan sesuai dengan harapan UU No.20/2003 diatas.wallahu a’lam.

Continue reading →
Jumat, 02 November 2012

Guru Ujung Tombak Pendidikan

0 komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan menilai guru merupakan ujung tombak masalah pendidikan di Indonesia, sebab edukasi merupakan proses interaksi antarmanusia.
"Jika kita memperhatikan kualitas, distribusi dan kesejahteraan guru, saya rasa kita bisa menyelesaikan sebagian masalah pendidikan di Indonesia," kata Anies dalam Diskusi Publik 'Nasionalisme dan Masa Depan Pendidikan Kita' yang diadakan MAARIF Institute, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (23/10) malam.
Dia mengatakan sistem pendidikan Indonesia saat ini belum memberikan apresiasi khusus kepada guru, padahal apresiasi terhadap guru mencerminkan bagaimana seseorang mengapresiasi masa depan bangsa.
Apresiasi terhadap guru, menurut Anies, tidak selalu harus berbicara gaji, namun juga mengenai komponen pengembangan guru itu sendiri.
"Penanaman nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan yang sentralistik bisa terjadi apabila guru berkualitas," kata dia.
Selain itu, menurut dia, perlu juga dilihat pendidikan sisi nonformal, yakni melalui orang tua. Anies menilai seringkali pendidikan oleh orang tua dilupakan.
"Orang tua adalah pendidik yang penting, sehingga orang tua ini perlu dijangkau oleh sistem pendidikan kita. 
Sekarang orang tua diundang datang ke sekolah biasanya untuk sumbangan, padahal sudah waktunya diundang untuk bicara bersama-sama mengenai pendidikan," beber dia.
Dia mengatakan pembicaraan antara sekolah dengan orang tua perlu dilakukan sejak tahap sekolah dasar, sebab sekolah dasar memiliki sebaran yang sangat luas.
Sementara itu masalah-masalah lain yang tidak kalah penting, menurut dia, infrastruktur pendidikan yang saat ini masih belum mumpuni, serta materi pendidikan sekolah dasar yang dinilai bertujuan menjadikan masyarakat sebagai orang urban.
"Materi-materi di buku sekolah dasar selalu memakai contoh gedung-gedung yang tinggi, sehingga dampaknya materi dan cara mengajar berorientasi menjadikan anak didik sebagai masyarakat urban atau masyarakat perkotaan. Padahal Indonesia ini bukan hanya penduduk urban," kata dia.
dikutip dari : republika.co.id
Continue reading →

Pendidikan Mahal, Pekerja Anak Marak

0 komentar
Pendidikan di Indonesia yang terus berbenah tampaknya belum bisa menyentuh semua elemen masyarakat yang ada di Indonesia khususnya untuk anak-anak kurang mampu. Hal ini kemudian memunculkan para pekerja anak yang merupakan generasi putus sekolah.

Sebenarnya, faktor penyebab munculnya para pekerja anak ini cukup beragam. Sementara itu, yang terus mengemuka saat ini faktor penyebab adalah karena masalah sosial ekonomi dan kesejahteraan keluarga yang tidak mencukupi sehingga mengharuskan anak-anak ini harus bekerja.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Kemenakertrans, Adji Dharma, mengatakan bahwa ada faktor lain yang melatarbelakangi anak-anak ini menjadi pekerja anak.

"Bukan hanya masalah sosial ekonomi saja. Ada faktor lain juga. Itu yang kami coba tuntaskan bersama dengan Kemendikbud," kata Adji, di Yayasan Al Himatuzzainiyah, Cakung, Jakarta, Rabu (31/10/2012).

Adapun faktor lain yang menyebabkan anak usia sekolah ini menjadi pekerja anak yaitu budaya masyarakat yan berpandangan anak adalah aset keluarga sehingga harus menjadi tulang punggung keluarga. Kemudian adanya diskriminasi gender, permintaan pasar yang tinggi terhadap pekerja anak karena bayarannya murah dan yang terakhir lemahnya penegakan hukum terhadap masalah ini.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa jika anak-anak ini terpaksa harus bekerja, maka ada beberapa hal yang wajib diketahui terkait pekerja anak. Hal wajib ini sama sekali tidak boleh dilanggar karena berpengaruh pada tumbuh kembangnya.

"Untuk mulai bekerja harusnya berusia 18 tahun ke atas. Tapi jika terpaksa di bawah itu, maka anak bekerja tidak boleh lebih dari tiga jam per hari, pekerjaannya harus ringan dan tidak membahayakan keselamatan jiwa, fisik serta perkembangannya sebagai anak," jelas Adji.

Durasi waktu bekerja ini dimaksudkan agar anak-anak ini tidak kehilangan waktu belajar dan bermain. Untuk itu, adanya pendidikan layanan khusus ini diharap dapat menjadi solusi sehingga anak-anak ini tetap terpenuhi kebutuhan pendidikannya agar menjadi sumber daya manusia berkualitas.

"Anak bekerja tidak boleh jam kerjanya seperti orang dewasa. Kalau mereka sudah jadi pekerja anak, maka kebanyakan lupa sekolah, sulit dikembalikan ke sekolah," tandasnya.
sumber : kompas.com
Continue reading →